Home Lifestyle Indonesia Economic Forum 2020: ‘Rebooting Economic Growth Post Covid-19’

Indonesia Economic Forum 2020: ‘Rebooting Economic Growth Post Covid-19’

written by Admin November 27, 2020
Indonesia Economic Forum 2020: ‘Rebooting Economic Growth Post Covid-19’

Indonesia Economic Forum yang ke-7 mempertemukan para pemimpin politik, bisnis, pemerintah, pemrakarsa dan pemimpin komunitas untuk membahas visi Indonesia di tahun 2020 untuk memulihkan pertumbuhan ekonomi pasca Covid-19. Forum ini pertama kalinya akan diselenggarakan secara virtual pada Selasa-Kamis tanggal 24 – 26 November 2020.

Berkolaborasi dengan HSBC Indonesia untuk ketiga kalinya, Indonesia Economic Forum tahun ini mengusung tema ‘2020 Vision: Rebooting Economic Growth Post Covid-19.’

Setelah mengalami penurunan ekonomi yang tajam sejak Krisis Keuangan Asia, Indonesia sedang berada dalam masa pemulihan perekonomian. Covid-19 telah mempercepat perubahan yang belum pernah terjadi sebelumnya dan telah menciptakan peluang baru.

Pada hari pertama di sesi pagi yang mengambil tema ‘Positioning The Economy For The Next New Normal‘ dan terbagi dalam 3 sesi diskusi panel.

Di sesi ini, para pembicara membahas mengenai 5 kunci utama untuk menata ulang tatanan ekonomi dunia.

Dalam pembukaannya, Shoeb Kagda selaku founder & CEO Indonesia Economic Forum mengungkapkan bahwa kita harus melihat ke depan di tahun 2021, dimana kita akan hidup di tatanan yang baru dan berbeda. Berbeda dengan 2020 yang dipenuhi oleh berbagai hambatan dan tantangan, 2021 memberikan harapan untuk masa depan yang cerah bagi kita semua.

Professor Kishore Mahbubani, Dosen Tamu Kehormatan dari National University of Singapore menyatakan salah satu pelajaran yang bisa dipetik dari Covid-19 adalah kita tidak dapat memprediksi bagaimana masa depan akan berjalan. Di tahun 2019, orang banyak membuat prediksi tentang bagaimana 2020 akan berjalan. Kenyataannya, semua prediksi yang telah diproyeksikan salah besar. Satu hal yang pasti, tidak satu pun dari kita telah memprediksi datangnya Covid-19. 2020 menjadi tahun yang sangat berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.

“Kita harus melihat bagaimana hubungan antara Cina dan Amerika Serikat yang sulit untuk berubah secara struktural. Dengan adanya paradoks dan gejolak politik di Amerika yang tengah terjadi saat ini, dapat mempengaruhi dunia ekonomi secara global. Amerika harus dapat bertahan di tengah kegentingan dan itu akan menjadi hal yang cukup sulit. Berbeda dengan China yang telah melakukan investasi dan hal yang benar sesuai dengan kebutuhan mereka, seperti melakukan hubungan ekonomi dengan negara lain. Dengan adanya hal tersebut, maka China diharapkan akan terus berhasil dalam konteks pertumbuhan dan perkembangan ekonomi. Pertanyaan sebenarnya ialah bagaimana kompetisi antara China dan Amerika Serikat akan berjalan?,” terang Professor Kishore Mahbubani, Dosen Tamu Kehormatan dari National University of Singapore

Hal ini ditimpali oleh Gita Wirjawan, Pendiri Ancora Capital yang mengungkapkan bahwa kedudukan China saat ini menjadi keuntungan bagi negara di Asia Tenggara, karena saat ini Asia Tenggara menjadi incaran pasar bagi China. Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) merupakan hal yang sangat sesuai bagi perjalanan ekonomi negara di Asia. Akan tetapi, hal ini akan menjadi tantangan bagi Indonesia yang masih lemah akan kesadaran kekayaan intelektual, pentingnya untuk menciptakan hal yang bersifat ramah lingkungan dan hal lainnya yang masih menjadi pekerjaan rumah bagi kita.

“Terdapat 3 hal penting yang harus diperhatikan. Pertama, kesepakatan mengenai kegiatan investasi bagi 15 anggota RCEP agar menjadi lebih mudah. Kedua, keberadaan UKM yang dimudahkan untuk kegiatan ekspor-impor. Dan yang terakhir ialah efek samping yang dihasilkan oleh pemerintah mengenai penyederhanaan perjanjian perdagangan antar negara,” jelas Gita Wirjawan, Pendiri Ancora Capital

Ali Setiawan, Managing Director, Head of Global Markets & Securities Services PT Bank HSBC Indonesia berkata, “Sebenarnya sangat sulit untuk bisa memprediksi apa yang akan terjadi di masa depan. Namun apabila dilihat dari konsensus kebanyakan pelaku pasar, 2021 nampaknya akan menjadi tahun yang lebih positif. Indonesia adalah salah satu pasar berkembang di ASEAN yang cukup banyak menerima portofolio investasi dari offshore, sehingga tentunya juga tidak kebal dari situasi pandemi saat ini. Sebagai contoh, perlu diketahui aliran dana keluar yang sangat besar terjadi di bulan Maret dan April, hampir US$11 miliar di pasar obligasi dan saham. Akibatnya, pasar finansial di Indonesia menjadi sangat volatile, termasuk di pasar obligasi dengan valas.”

Ali Setiawan memaparkan bahwa ia percaya bahwa Indonesia masih menjadi destinasi investasi yang sangat menarik bagi para investor.

“Apabila dilihat melalui portofolio investasi yang ada saat ini, Indonesia menjadi salah satu negara yang menyediakan imbal hasil yang cukup menarik dan tertinggi dibanding instrumen lain di kawasan ASEAN. Itulah yang sebenarnya terjadi dari kuartal kedua ke kuartal ketiga, dimana kami mulai melihat aliran dana asing mulai masuk kembali ke pasar finansial indonesia. Sebagai contoh kita melihat posisi investasi dana asing di bulan Januari yang hamper mencapai Rp1.100 triliun turun ke Rp917 triliun sampai bulan April. Tetapi mulai meningkat kembali ke Rp965 triliun sampai di bulan November 2020. Walaupun peningkatan ini belum sebanyak yang kita harapkan tapi setidaknya kita melihat hampir sekitar US$3 miliar dolar AS yang kembali dan kebanyakan di pasar obligasi pemerintah dan itu menunjukkan kepercayaan investor asing untuk kembali berinvestasi di Indonesia,” paparnya.

“Jadi kita melihat masih ada faktor pendorong untuk perbaikan di tahun 2021. Memang di sektor korporasi masih belum banyak aktivitas dan suntikan investasi tapi setidaknya mulai ada peningkatan dari sisi penjualan dari bulan September hingga oktober di beberapa sektor industri. Pemerintah harus terus proaktif dan konsisten, tidak hanya melalui inisiatif kebijakan dari besaran stimulus tapi juga dari sisi penyaluran stimulus tersebut untuk membantu pemulihan ekonomi Indonesia. Kedua, konsisten melalui reformasi struktural yang sudah dipaparkan sehingga bisa menarik lebih banyak investasi asing (FDI) dan kita melihat salah satunya ada momentum baik seperti UU Cipta kerja yang baru saja disetujui,” tambah Ali.

Namun, bagaimana konflik antara Hong Kong dan China dapat mempengaruhi ekonomi Asia?

Bagaimana persepsi negara-negara di Asia mengenai konflik politik dan militer China ketika melihat fakta bahwa China dahulu merupakan negara yang bersahabat namun saat ini bertindah agresif?

Professor Kishore Mahbubani memaparkan bahwa saat ini terdapat 2 naratif.

“Naratif yang pertama ialah bagaimana dunia melihat China sebagai negara yang agresif terhadap Hong kong, melakukan pembantaian terhadap Hong kong dan hal buruk lainnya. Hal ini dapat dilihat sebagai sebuah agenda oleh Hong Kong. China yang memiliki penduduk lebih banyak dari Hong Kong akan lebih mudah memenangkan konflik yang sengit ini. Salah satu cara yang dapat dilakukan oleh Hong Kong ialah mengubah kebijakan perumahan rakyat yang masih sangat rendah. Hampir 5% warga negara Hong Kong tidak memiliki tempat tinggal. Hong Kong harus memperhatikan hal ini agar dapat berjalan dengan baik,” ujarnya.

Posisi Indonesia saat ini pun dijelaskan oleh Gita Wirjawan.

“Bagaimana Indonesia ditempatkan dalam situasi ini menjadi sangat penting. Kita harus dapat mempertahankan bagaimana Indonesia dilihat sebagai negara yang stabil. Dengan adanya persepsi tersebut, FDI (Foreign Direct Investment) akan meningkat. Ekonomi akan pulih secara perlahan. Dan dengan adanya Omnimbus Law, dapat mendukung peningkatan investasi asing. Sosialisasi dengan para stakeholders menjadi sangat penting karena mereka merupakan peran utama dalam hal ini, dan saat ini hal itu menjadi isu yang sensitif,” jelas Gita Wirjawan

Professor Kishore menekankan 3 poin utama, yang pertama adalah kita harus berpikir secara positif. Media akan selalu menampilkan berita negatif. Kita harus percaya bahwa ekonomi dapat berangsur pulih. Yang kedua, seluruh negara di Asia harus sepakat bahwa kita harus menjadi satu suara. Kita harus menegaskan bahwa Asia memiliki perekonomian yang kuat. Dan yang terakhir adalah kita harus selalu siap untuk kejutan yang akan datang. Tidak ada yang mengira bahwa pandemi ini akan datang, sehingga kita harus memiliki terobosan untuk mengatasinya.

Hari pertama IEF di tutup dengan presentasi oleh Ford Professor of Economics and Associate Department Head of MIT’s Department of Economics, David Autor dengan membahas ‘Masa Depan Pekerjaan’. Pada sesi ini, David Autor memberikan pandangannya mengenai pekerjaan di masa depan.

Ia menjelaskan bagaimana pekerjaan dimasa lalu dan di masa sekarang, memiliki banyak perubahan signifikan yang muncul. Banyak penemuan hebat dalam 200 tahun terakhir yang dirancang khusus untuk menghemat tenaga kerja, seperti komputer misalnya. Penemuan tersebut terbukti bekerja dengan baik. Manusia tidak lagi melakukan pekerjaannya secara manual. Teknologi telah berhasil mengubah jumlah tenaga kerja dengan penggunaan mesin.

“Perubahan teknologi terjadi secara bertahap tentu memberikan dampak, seperti 3D printing, robot industri, rantai pasok yang cerdas, serta kecerdasan buatan. Tentu, hal tersebut bukanlah hal yang pernah kita perkirakan sebelumnya,“ terang David Autor.

Ia menekankan beberapa hal penting terkait bagaimana pekerjaan di masa depan.

“Seiring berjalannya waktu, kita akan mengalami kehilangan lapangan pekerjaan, namun hal tersebut akan diimbangin oleh kemunculan lapangan pekerjaan baru seiring dengan berkembangnya teknologi. Skill baru, pelatihan, dan edukasi sangat penting karena akan membuka peluang dimasa depan. Satu hal yang pasti, pekerjaan dimasa depan akan berbeda dengan pekerjaan yang ada di masa lalu, atau bahkan di masa sekarang,” tambah David.

Terkait hilangnya lapangan pekerjaan akibat dampak automasi, Ia menekankan bahwa manusia tidak perlu takut akan kehilangan pekerjaan.

“Interaksi antara keunggulan komparatif mesin dan manusia memungkinkan komputer untuk menggantikan pekerja dalam melakukan tugas rutin yang dapat dilakukan secara sistematis, sambil memperkuat keunggulan komparatif pekerja dalam menyediakan keterampilan pemecahan masalah, kemampuan beradaptasi, dan kreativitas. Manusia harus bisa menjadi master dalam bidangnya, karena penilaian manusia tidak dapat dikalahkan oleh mesin,“ lanjut Professor David Autor.

Indonesia Economic Forum adalah platform multi-stakeholder yang mempertemukan semua pihak. Indonesia Economic Forum memiliki visi untuk mempromosikan kemajuan ekonomi dan sosial Indonesia dengan mengidentifikasi tren dan peluang. Sejak didirikan pada tahun 2014, setiap tahun Indonesia Economic Forum telah melibatkan pemerintah Indonesia, masyarakat sipil, komunitas bisnis, akademisi dan organisasi pemuda dalam forum tahunan.

Tahun ini, Forum Indonesia Economic Forum menjadi forum virtual terbesar di Indonesia, dan dihadiri oleh 1.000 peserta dari Amerika Serikat, Australia, India, Singapura, Thailand, Malaysia dan Indonesia. Melalui platform digital, Indonesia Economic Forum telah menjangkau lebih dari 3.000 pemimpin eksekutif dan bisnis senior serta lebih dari satu juta pengikut di Indonesia.

You may also like

Leave a Comment