Home Lifestyle SIA Laporkan Pendapatan Tahunan Tertinggi Sebesar $16,3 Miliar

SIA Laporkan Pendapatan Tahunan Tertinggi Sebesar $16,3 Miliar

written by Admin June 11, 2019
SIA Laporkan Pendapatan Tahunan Tertinggi Sebesar $16,3 Miliar

SIA Group pada hari ini melaporkan laba operasional yang solid sebesar $1.067 juta dolar Singapura untuk tahun keuangan 2018/19 [Catatan 1] di tengah lingkungan pasar yang menantang, dengan berbagai inisiatif transformasi yang berkontribusi pada pencapaian kinerja pendapatan tersebut.

Meskipun adanya penurunan laba operasional pada tahun lalu sebesar $1.549 juta [Catatan 2] ($ 482 juta lebih rendah atau -31,1%), Grup memiliki kinerja dasar yang kuat terhadap penyebab dari kenaikan biaya bahan bakar sebesar $ 1 miliar (+ 25,1%), yang sebagian besar disebabkan oleh kenaikan harga bahan bakar sebesar 21,6% dan tidak adanya pendapatan item one-off yang tercatat pada tahun lalu (- $ 243 juta) [Catatan 3].

Pertumbuhan pendapatan dari sisi yang diterbangkan naik sebesar $829 juta, dengan pendapatan dari sisi penumpang yang diterbangkan meningkat sebesar $784 juta (+ 6,4%), yang disebabkan oleh pertumbuhan lalu lintas sebesar 8,5% pada peningkatan kapasitas sebesar 6,4%. Terlepas dari ekspansi kapasitas yang signifikan, sistem manajemen pendapatan baru serta perubahan harga dan proses penjualan membantu memungkinkan RASK (diukur dalam pendapatan per tempat duduk yang tersedia – kilometer) untuk tetap stabil dibandingkan dengan tahun lalu. Tingkat keterisian penumpang naik sebesar 1,6 poin persentase menjadi 83,0% dan menjadi sebuah rekor untuk Grup. Pendapatan dari sisi kargo yang diterbangkan untuk tahun ini meningkat sebesar $ 45 juta (+ 2,1%), dikarenakan pertumbuhan hasil kargo yang didapatkan (+ 5,7%) telah lebih dari cukup untuk mengimbangi jumlah beban yang diangkut yang lebih rendah (-3,5%) dalam lingkungan pelemahan perdagangan.

Pengeluaran untuk Grup naik sebesar $999 juta (+7,0%) menjadi $15,3 miliar, dengan biaya bahan bakar bersih yang lebih tinggi (+ $688 juta atau 17,6%) yang berkontribusi sebesar dua pertiga dari kenaikan tersebut. Biaya bahan bakar sebelum lindung nilai untuk Grup naik sebesar $1.002 juta, yang sebagian besar disebabkan oleh kenaikan rata-rata bahan bakar jet sebesar $16 per barel (+21,6%). Harga bahan bakar yang lebih tinggi sebagian besar telah dikurangi oleh kenaikan lindung nilai yang lebih besar dibandingkan dengan tahun lalu (+ $ 314 juta).

Pengeluaran non-bahan bakar Grup meningkat sebesar $311 juta, yang disebabkan oleh operasi maskapai. Biaya non-bahan bakar dari bisnis maskapai meningkat sebesar $327 juta (+3,4%), yang termasuk pada tingkat keseluruhan dalam ekspansi operasi maskapai (+4,1%). Berbagai inisiatif dalam program transformasi telah berhasil melakukan penghematan biaya. Oleh karena itu, biaya unit non-bahan bakar turun sebesar 0,8%.

Laba bersih Grup untuk tahun keuangan 2018/19 adalah sebesar $683 juta, $ 619 juta atau 47,5% lebih rendah dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Pengurangan ini terutama disebabkan oleh laba operasional yang lebih rendah (- $482 juta), sebagai tambahan terhadap biaya non-operasional yang lebih tinggi. Beban keuangan bersih meningkat sebesar $45 juta, dikarenakan Grup meningkatkan pinjaman untuk pembelian pesawat pada tahun ini. Grup juga menyatakan telah mengalami kerugian ($116 juta) yang timbul dari penyesuaian akuntansi non-tunai Virgin Australia pada kuartal sebelumnya. Selain itu, Grup juga mengeluarkan biaya sebesar $60 juta sehubungan dengan biaya pergantian armada untuk transisi SilkAir dari Airbus ke Boeing, serta biaya restrukturisasi yang dikeluarkan sebagai persiapan integrasi maskapai SilkAir ke SIA.

Ringkasan pada efek item one-off dan biaya yang berkaitan dengan SilkAir di tahun keuangan saat ini dan sebelumnya pada laba bersih Grup adalah sebagai berikut:

Tahun Keuangan 2018/19

$juta

Tahun Keuangan 2017/18

$juta

Laba Bersih yang Dilaporkan

683

1,302

 

 

 

Tidak termasuk pos tidak berulang (non-recurring) dan lainnya:

 

 

Perubahan pada Breakage Rates KrisFlyer dan Keuntungan Anggota

(178)

Kompensasi untuk Perubahan pada Slot Pesawat

(65)

Bagian dari Penyesuaian Akuntansi VAH

116

Biaya Pergantian Armada dan Restrukturisasi SilkAir

60

Dampak Pajak

41

Laba Bersih yang Disesuaikan

859

1,100

Hasil Operasional Tahun Keuangan 2018/19 dari Perusahaan Utama

Hasil operasional dari perusahaan utama di dalam Grup untuk tahun keuangan 2018/19 adalah sebagai berikut:

Tahun Keuangan 2018/19

$ juta

Tahun Keuangan 2017/18

$juta

Laba Operasional (Kerugian)

Tahun Keuangan 2018/19

$ juta

Tahun Keuangan 2017/18

$juta

Perusahaan Maskapai Induk [Catatan 4]

991

1,338

SilkAir

15

44

Scoot

(15)

78

SIA Engineering

57

79

 Laba operasional untuk Perusahaan Maskapai Induk mengalami penurunan sebesar $347 juta menjadi $991 juta, dikarenakan pertumbuhan dari sisi pendapatan yang diterbangkan ($613 juta) diimbangi dengan tidak adanya pendapatan pos tidak berulang (non-recurring) insidental ($243 juta) serta pengeluaran yang lebih tinggi ($684 juta).

Seluruh wilayah rute mengalami pertumbuhan pendapatan dari sisi penumpang yang diterbangkan yang sehat untuk Perusahaan (+ $ 568 juta atau 5,8%), secara khusus pada rute Eropa, Asia Barat / Afrika dan Amerika yang diuntungkan oleh permintaan yang kuat, praktik-praktik komersial yang lebih cepat dan tepat, serta pengenalan layanan penerbangan non-stop terbaru. Secara keseluruhan, sistem angkutan penumpang tumbuh sebesar 7,0% (diukur dalam pendapatan penumpang-kilometer), sementara kapasitas ditingkatkan dengan lebih lambat (+ 4,5%, diukur dalam kursi-kilometer yang tersedia). Oleh karena itu, tingkat keterisian penumpang untuk tahun ini meningkat menjadi 83,1% (+2,0 poin persentase) dan menjadi angka tertinggi dalam catatan perusahaan. RASK meningkat sebesar 1,2%, atau 3,6% berdasarkan mata uang konstan, dan menandai tahun pertumbuhan lainnya. Pendapatan dari sisi kargo yang diterbangkan meningkat sebesar $45 juta (+2,1%) secara year-on-year, dikarenakan imbal hasil yang lebih kuat (+ 5,7%) sebagian diimbangi oleh penurunan beban kargo yang diangkut (-3,5%).

Peningkatan pengeluaran (+6,0%) disebabkan oleh biaya bahan bakar bersih yang lebih tinggi, yang meningkat sebesar $535 juta (+16,6%), dimana sebagian besar disebabkan oleh harga bahan bakar lebih tinggi (+$737 juta) dan volume bahan bakar dikonsumsi (+$60 juta), yang sebagian dikurangi oleh kenaikan lindung nilai bahan bakar (+ $ 253 juta). Biaya non-bahan bakar meningkat sebesar $ 149 juta (+ 1,8%), disebabkan oleh ekspansi operasi dan jumlah karyawan yang lebih besar.

SilkAir melaporkan laba operasional sebesar $15 juta, pengurangan $29 juta dibandingkan dengan tahun sebelumnya, yang sebagian besar disebabkan oleh kenaikan biaya bahan bakar bersih (+$30 juta). Pertumbuhan sistem angkutan penumpang menguat (+7,2%) pada pertumbuhan kapasitas sebesar 3,2%. Namun, tekanan kompetitif dan pelemahan pendapatan dari mata uang utama menyebabkan pertumbuhan pendapatan hanya sebesar $20 juta (+ 2,1%). Pendapatan dari sisi yang diterbangkan lebih tinggi sebagian besar dinegasikan oleh pendapatan layanan tidak terjadwal yang lebih rendah (- $5 juta) dan biaya non-bahan bakar yang lebih tinggi (+$10 juta atau 1,2%). RASK mengalami penurunan sebesar 1,2%, meskipun pada nilai tukar konstan RASK akan tetap sama dengan tahun lalu.

Scoot mengalami kerugian operasional sebesar $15 juta dari laba tahun lalu sebesar $ 78 juta (-$93 juta), disebabkan oleh biaya ekspansi yang melebihi pertumbuhan pendapatan. Kinerja secara substansial dipengaruhi oleh perlambatan dalam tingkat pertumbuhan perjalanan ke China. Pertumbuhan pada lalu lintas penumpang (+14,6%) mengikuti pertumbuhan kapasitas (+15,1%), sementara hasil operasional juga melemah dengan adanya layanan penerbangan yang memiliki pesaing baru di beberapa rute. Faktor-faktor ini berkontribusi terhadap penurunan sebesar 2,0% dalam RASK. Sementara itu, pengeluaran meningkat sebesar $ 292 juta (+19,4%), yang sebagian besar disebabkan oleh tagihan bahan bakar bersih yang lebih tinggi (+$123 juta atau 27,3%) dan biaya ekspansi (+$169 juta atau 16,1%). Sementara, kinerja Scoot juga telah dipengaruhi oleh gangguan operasional yang tidak biasa, terutama berkaitan dengan masalah mesin pesawat 787, maskapai ini terus membentuk landasan untuk memperoleh keuntungan dalam jangka menengah dan panjang dari pertumbuhan pada segmen penerbangan berbiaya rendah.

Laba operasional SIA Engineering untuk tahun ini turun menjadi $57 juta, $22 juta (-27,8%) lebih rendah dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Pendapatan turun sebesar $74 juta (-6,8%), sebagian besar disebabkan oleh aktivitas-aktivitas pengelolaan badan pesawat dan armada yang lebih rendah. Pengurangan pengeluaran (-$52 juta atau 5,1%), terutama dari penurunan biaya material dan subkontrak dengan beban kerja yang lebih rendah, mengurangi penurunan pendapatan.

Hasil Operasional Kuartal Keempat Tahun Keuangan 2018/2019 dari Perusahaan Utama

Laba operasional Grup untuk kuartal keempat turun sebesar $80 juta (-24,0%) menjadi $253 juta. Peningkatan pendapatan sebesar $58 juta (+ 1,4%) diimbangi oleh biaya bahan bakar bersih yang lebih tinggi (+ $ 81 juta atau 8,0%) dan biaya non-bahan bakar pada injeksi kapasitas. Biaya non-bahan bakar meningkat sebesar $57 juta (+2,1%), di bawah pertumbuhan kapasitas penumpang Grup sebesar 8,0.

Hasil operasional dari perusahaan utama dalam Grup selama kuartal keempat adalah sebagai berikut:

Kuartal Keempat Tahun Keuangan 2018/19

Kuartal Keempat Tahun Keuangan 2017/18

Laba Operasional (Kerugian)

$ juta

$ juta

Perusahaan Maskapai Induk

204

283

SilkAir

11

3

Scoot

(6)

30

SIA Engineering

19

21

Selama kuartal ini, pendapatan Perusahaan Maskapai Penerbangan Induk dari sisi penumpang yang diterbangkan mengalami kenaikan sebesar $171 juta (+7,0%), yang diikuti oleh pertumbuhan pengangkutan yang kuat, dipimpin oleh wilayah Asia Utara dan Amerika. Kabin gabungan juga terus berkembang, dengan pertumbuhan permintaan untuk kabin Business dan Premium Economy, yang membantu mengurangi pergerakan mata uang asing yang merugikan. Di sisi lain, segmen kargo mengalami penurunan sebesar $34 juta (-6,6%) dalam pendapatan untuk beban yang lebih rendah (-6,8%), mencerminkan kondisi perdagangan yang sulit selama kuartal tersebut. Pertumbuhan pendapatan keseluruhan juga sebagian diimbangi dengan tidak adanya pendapatan pos tidak berulang (non-recurring) insidental pada tahun sebelumnya ($68 juta) yang berkaitan dengan penyesuaian program breakage rate KrisFlyer dan kompensasi untuk perubahan slot pengiriman pesawat. Ditambah dengan peningkatan biaya (+$123 juta atau 4,2%) karena bahan bakar (+ $ 73 juta atau 8,8%) dan pertumbuhan operasional, laba operasional Perusahaan turun sebesar $79 juta menjadi $ 204 juta.

SilkAir mencatat peningkatan laba operasional sebesar $8 juta, sebagian besar disebabkan oleh penurunan biaya. Pendapatan dari sisi penumpang yang diterbangkan meningkat $3 juta pada pertumbuhan RASK sebesar 1,2% dibandingkan tahun lalu, yang didorong oleh peningkatan sebesar 3,7 poin persentase dalam tingkat keterisian pada lalu lintas penumpang yang lebih tinggi (+ 4,3%). Pengeluaran mengalami penurunan, yang sebagian disebabkan oleh pengurangan jumlah penerbangan yang beroperasi pada kuartal ini.

Scoot melaporkan kerugian operasional sebesar $6 juta, penurunan $36 juta dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Kinerja yang melemah ini disebabkan oleh peningkatan pengeluaran (+$49 juta atau 11,9%), dipimpin oleh penambahan kapasitas (+10,9%), yang melampaui pertumbuhan pendapatan. Pendapatan penumpang yang diterbangkan meningkat sebesar $20 juta (+4,8%), didukung oleh pertumbuhan 8,5% dalam sistem angkutan penumpang, tetapi RASK turun sebesar 5,8%, sebagian disebabkan oleh penurunan 1,9% poin dalam hal tingkat keterisian.

Laba bersih Grup untuk kuartal ini turun sebesar $78 juta (-27,8%) menjadi $203 juta, didorong oleh kinerja operasional yang lebih lemah (-$80 juta) dan peningkatan pada item non-operasi, terutama disebabkan oleh adanya pergantian armada dan restrukturisasi SilkAir. Hal ini sebagian dikurangi dengan pengurangan pajak atas profit yang lebih rendah.

Dividen Akhir Sebesar 22 Sen

 Dewan Direksi merekomendasikan dividen final sebesar 22 sen per saham untuk tahun keuangan 2018/19.

 Dengan dividen interim sebesar 8 sen per saham yang dibayarkan pada 4 Desember 2018, total dividen untuk tahun keuangan 2018/19 adalah 30 sen per saham. Dividen akhir (bebas pajak, satu tingkat) akan dibayarkan pada 16 Agustus 2019 untuk pemegang saham pada 2 Agustus 2019.

Pengembangan Rute

Selama periode operasi Northern Summer (31 Maret 2019 hingga 26 Oktober 2019), Perusahaan Maskapai Induk mulai mengoperasikan layanan penerbangan ketiga pada rute Singapura-Osaka. Penerbangan Singapura-Johannesburg tiga kali seminggu juga diperkenalkan, sehingga total penerbangan ke Johannesburg menjadi 10 kali seminggu, meningkat dari operasi harian yang sudah ada. Layanan penerbangan menuju Seattle akan dimulai pada 3 September 2019. Per tanggal 31 Maret 2019, SIA beroperasi menuju 63 destinasi di 32 negara dan wilayah, termasuk Singapura.

Sebagai bagian dari rencana SilkAir untuk bergabung dengan SIA, SilkAir baru saja menyelesaikan perpindahan layanan penerbangan menuju Vientiane, Luang Prabang, dan Trivandrum ke Scoot. Perpindahan yang direncanakan untuk Coimbatore dan Visakhapatnam juga berada pada jalur yang tepat, bila perubahan ini disetujui oleh regulator. SilkAir meluncurkan layanan penerbangan Korea Selatan pertamanya menuju Busan pada 1 Mei 2019 dan menjadi maskapai pertama dengan penerbangan berjadwal untuk rute tersebut. Per tanggal 31 Maret 2019, SilkAir melayani 49 tujuan di 16 negara, termasuk Singapura.

Scoot memulai layanan penerbangan Singapura-Laos dengan rute berputar dari Vientiane melalui Luang Prabang pada 1 April 2019, sementara penerbangan menuju Trivandrum dimulai pada 7 Mei 2019. Kota Bharu, destinasi baru dalam Grup, juga akan ditambahkan mulai Juli 2019, bila perubahan ini disetujui oleh regulator. Setelah melakukan ulasan terhadap jaringan rute, layanan penerbangan Scoot ke Dhaka, Dalian dan Honolulu telah  diberhentikan, sementara layanan penerbangan menuju Bengaluru dan Shenzhen akan dipindahkan masing-masing ke SIA dan SilkAir.

Melanjutkan larangan terbang atas armada Boeing 737 MAX 8, SilkAir tidak akan lagi memindahkan pesawat Boeing 737-800NG ke Scoot pada tahun keuangan 2019 /20. Akibatnya, Scoot akan menangguhkan layanan ke empat tujuan dengan permintaan yang lebih rendah, yaitu Lucknow, Kalibo, Quanzhou dan Male, dalam beberapa bulan mendatang. Penerbangan ke Mali akan terus dioperasikan oleh SIA dan SilkAir. Per tanggal 31 Maret 2019, Scoot beroperasi di 66 destinasi di 18 negara dan teritori, termasuk Singapura.

Pada akhir tahun keuangan, portofolio maskapai penerbangan dalam Grup melayani 138 tujuan penumpang di 37 negara dan wilayah, termasuk Singapura.

Operasi kargo SIA akan terus mengejar peluang charter dan mengerahkan kapasitas untuk memenuhi permintaan. Jaringan pengiriman kargo mencakup 19 kota di 13 negara dan wilayah, termasuk Singapura.

You may also like

Leave a Comment

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});