Home Lifestyle Pa’bunga Bunga Urban Reborn di IFW 2019 : Kolaborasi Cantik Sofia Sari Dewi x TorajaMelo x Toraja Utara

Pa’bunga Bunga Urban Reborn di IFW 2019 : Kolaborasi Cantik Sofia Sari Dewi x TorajaMelo x Toraja Utara

written by Admin March 31, 2019
Pa’bunga Bunga Urban Reborn di IFW 2019 : Kolaborasi Cantik Sofia Sari Dewi x TorajaMelo x Toraja Utara

Seorang designer muda kebanggaan Indonesia, Sofia Sari Dewi kembali menampilkan karyanya di ajang bergengsi Indonesia Fasion Week 2019. Dalam kolaborasi Sofia Sari Dewi X TorajaMelo X Toraja Utara di pergelaran ‘Revisited Sarong by KOPIKKON’ oleh BEKRAF di ajang Indonesia Fashion Week (IFW) 2019 yang dihelat di Jakarta Convention Center (JCC), desainer binaan Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) mengusung sarung ke dalam karya yang tampil kekinian.

Di ajang ini, Sofia berkolaborasi dengan komunitas TorajaMelo x Toraja Utara sekaligus merayakan satu dekade keberhasilan TorajaMelo dalam melestarikan motif tenun Pa’Bunga Bunga Toraja yang nyaris punah.

TorajaMelo merupakan social enterprise yang peduli dengan seni dan budaya, khususnya dalam bidang tenun, dan memiliki tujuan memberikan kehidupan yang lebih baik bagi para perempuan penenun, sekaligus melestarikan dan meremajakan seni budaya tekstil tenunan tangan tradisional Indonesia.

Menurut Dinny Jusuf selaku founder & CEO TorajaMelo, social enterprise ini dibentuk tujuan utamanya adalah untuk mengurangi kemiskinan perempuan pedesaan dengan menggunakan tenun. Selama satu dekade eksistensinya, TorajaMelo telah meremajakan beberapa pola tekstil tenunan tangan Toraja, salah satunya adalah Pa’bunga bunga yang akan ditampilkan dalam pagelaran kali ini. Ini adalah pertama kalinya motif tenun Toraja Pa’Bunga Bunga tampil di publik secara resmi.

“Sepuluh tahun yang lalu, hanya dua penenun tua yang bisa menenun teknik lompat lungsi dengan motif geometrik ini. Sekarang dengan berdirinya Koperasi Penenun Sa’dan Siangkaran sebagai mitra TorajaMelo, sudah banyak perempuan muda Toraja yang bisa menenun teknik ini,” ungkap Dinny kepada Travelmaker.ID.

Dinny Jusuf menambahkan pula, untuk melestarikan tenun sekaligus mengangkat harga diri perempuan penenun, pihaknya menjalin kolaborasi dengan desainer, salah satunya adalah Sofia Sari Dewi.

“Salah satu cara melestarikan tenun adalah berkolaborasi dengan generasi muda. Sejak awal tahun lalu TorajaMelo telah bekerja bersama Sofia Sari Dewi,” ujarnya.

“Pada 2008 hanya ada dua orang nenek yang membuatnya. Jika tidak dilestarikan, maka motif tenun Pa’Bunga Bunga Toraja yang indah itu nyaris punah dan hanya tinggal nama,” tambahnya menjelaskan.

Dalam beberapa tahun terakhir, diakui Dinny semakin banyak tenaga kerja perempuan yang kembali ke Toraja untuk menenun.

“Sudah waktunya kain tenun kembali merajai fashion lokal Indonesia, perempuan penenun Indonesia dapat mencari uang di negerinya sendiri sambil mengasuh anaknya supaya tumbuh terdidik dengan baik ” ujarnya.

‘Dan kini seiring perkembangan zaman, Torajamelo pun mulai fokus pada 3C yaitu Commerce, Community Based Travel, Consultancy,” tambahnya lagi.

Pa’bunga Bunga Urban Reborn di Runway Indonesia Fashion Week 2019

Sementara itu pada kesempatan yang sama, Sofia Sari Dewi mengawali sesi wawancara dengan mengungkapkan alasan dirinya mulai fokus mengerjakan desain dengan bahan utama sarung tenun.

“Saya mulai fokus mengerjakan desain busana dengan tema utama tenun karena saya menilai tenun yang ada selama ini sayangnya lebih banyak dijual ke luar negeri atau lebih bisa dihargai keberadaannya di negeri luar sementara itu justru malah kurang diapresiasi di dalam negeri. Dan dengan kolaborasi ini semoga dapat membuat value dari tenun pun meningkat. Jujur saya amati dalam 10 tahun ini tenun semakin meningkat nilainya, khususnya di kalangan generasi muda,” jelas Sofia.

Sofia juga membeberkan bahwa dirinya memiliki alasan tersendiri mengapa mengangkat sarong (sarung) bertema ‘Urban Reborn’ dalam koleksinya yang dipertontonkan di ajang Indonesia Fashion Week 2019.

“Sarung sudah menjadi bagian gaya hidup masyarakat Indonesia sejak lama. Orang Indonesia terlihat anggun dan gagah saat mengenakan sarung. Dengan mengangkat sarung menjadi sesuatu yang kekinian di ajang IFW 2019, saya berharap generasi muda mulai menerapkan #SarongIsOurLisestyle sebagai outfit-nya, serta bangga dengan jati dirinya,” papar desainer kelahiran Yogyakarta pada tanggal 2 November 1983 ini.

“Tahun ini, saya berkolaborasi dengan TorajaMelo dan Toraja Utara, ini adalah area IKKON (Inovatif dan Kreatif melalui Kolaborasi Nusantara) 2017, yang kebetulan mentornya Ibu Dinny dari social enterprise TorajaMelo,” urai Sofia, yang pernah terpilih untuk mengikuti program unggulan pemerintah Indonesia melalui BEKRAF (Badan Ekonomi Kreatif Indonesia), IKKON 2016.

Sebagai informasi, pada tahun 2018, Sofia juga memanaskan Indonesia Fashion Week berkolaborasi dengan komunitas Indigo Ikat Lango, Ngada dengan menghadirkan tenun dengan warna baru yang eksotik yaitu ‘Indigo Deep Blue Sea’. Karya itu terinspirasi dari kecintaannya terhadap kebudayaan di daerah Ngada, di propinsi Nusa Tenggara Timur dimana ia menyumbangkan waktu dan ide-idenya sebagai peserta IKKON 2016.

Di ajang IFW 2019, Sofia menggunakan sarung yang ‘disulap’ dalam outfit kekinian dalam 9 look, yaitu 5 untuk pria dan 4 untuk wanita.

“Sarung bisa dimodifikasi tampil kekinian dan modis sehingga cocok dikenakan sebagai outfit harian,” imbuhnya.

Dan menurut Sofia, perhelatan akbar Indonesia Fashion Week merupakan momen yang tepat untuk lebih memasyarakatkan sarung. Dinny setuju dengan pendapat itu. Menurutnya, Indonesia Fashion Week 2019 akan menjadi ajang yang baik bagi generasi muda untuk bangga #SarongIsOurLifestyle, hashtag (tagar) yang diusung #TorajaMeloXSofiaSariDewi dalam kampanye digitalnya.

Dalam pergelaran ini, Sofia Sari Dewi X TorajaMelo X Toraja Utara didukung oleh JNE, yang mengusung jargon ‘Connecting Happiness’ dan ‘Menginspirasi Negeri’ yang selaras dengan tagline TorajaMelo, Weaving The Stories Of Indonesia.

“Mari nikmati desain sarung Sofia untuk merayakan kekayaan kain tenunan Indonesia di Indonesia Fashion Week 2019,” pungkas Dinny.

“Indonesia bagaikan perpustakaan budaya raksasa yang memiliki keanekaragaman yang mampu membuat jemari tidak berhenti menari. Inilah, Indonesiaku!” tambah Sofia Sari Dewi

You may also like

Leave a Comment