Home Nusantara Hidup Damai Saling Berbeda-Beda di Kampung Bali-Kab. Langkat

Hidup Damai Saling Berbeda-Beda di Kampung Bali-Kab. Langkat

written by Admin June 23, 2018
Hidup Damai Saling Berbeda-Beda di Kampung Bali-Kab. Langkat

Bicara terkait keberagaman suku, bangsa dan ras serta agama memang sudah menjadi nilai lebih Sumatera Utara dibandingkan dengan provinsi lainnya. Siapapun dia, meskipun berbeda secara suku, berbeda bangsa dan ras serta berbeda agama tidak menghalangi siapapun untuk dapat diterima di tengah-tengah masyarakat.

Ada banyak bukti nyata terkait hidup tentramnya keberagaman di Sumatera Utara ini, salah satunya ada bukti yang letaknya  wilayah Kabupaten Langkat uyaitu Kampung Bali,

Selain menarik sebagai lokasi wisata, Kampung Bali ini juga mengandung nilai historis yang sangat tinggi dan terpancar dari berbagai peninggalan sejarah atau artefak kuno yang menarik dan penuh inspirasi.

Bicara sejarah, anda harus tahu bahwa Kampung Bali ini, sudah berdiri sejak tahun 1974. Adapun penghuni kampung ini mayoritas warga yang bertransmigrasi dari Pulau Dewata Bali, yang merupakan korban meletusnya Gunung Agung.

Memasuki kawasan ini, tak heran, apabila pengunjung merasakan seperti datang ke Pulau Bali yang sesungguhnya. Budaya khas Bali masih kental bagi warga Kampung Bali Langkat. Setiap rumah masih dihiasi dengan Sanggah, yakni tempat sembahyang umat Hindu di Bali. Di kampung inu juga ditemukan pura besar, yakni Pura Duringin dan Pura Agung Widya Lokanata, pura ini dibuka untuk umum.

Semua warga Hindu dapat bersembahyang ke dalam pura ini. Walaupun tidak beragama Hindu, pengunjung juga bisa memasuki pura ini. Namun, sebelumnya harus mensucikan diri dan ditemani guide dari Kampung Bali.

Masuk ke dalam pura juga harus melepas alas kaki, tidak boleh merokok, menjaga ucapan dan bagi wanita yang berhalangan, tidak diizinkan memasuki pura ini.

I Nyoman Sutejo selalu Ketua Pengutipan Pendapatan Dusun Kampung Bali mengatakan bahwa di dalam Kampung Bali, tidak hanya diisi warga Hindu keturunan dari Bali saja akan tetapi sangat bervariasi. Sebagai contoh, ada warga yang bersuku Jawa, Batak Toba, dan Batak Karo.

Dari 80 Kepala Keluarga di Kampung Bali, kata I Nyoman, sebanyak 34 Kepala Keluarga di Kampung Bali, diisi umat Hindu dari Pulau Bali. Sedangkan selebihnya, terbagi antara suku Batak, Jawa dan Karo.

“Di sini memang mayoritas suku Bali, tapi ada suku Batak, Jawa dan Karo. Ada agama Hindu, Islam dan Kristen. Kami semua rukun di sini. Bahkan, sudah banyak juga yang menikah dengan berbeda agama. Kami menerima itu, kami sangat menjunjung tinggi perbedaan,” ujarnya.

You may also like

Leave a Comment