Home Lifestyle Menariknya Diskusi Sejarah Ulang Tahun Jakarta di Pasar Seni Ancol

Menariknya Diskusi Sejarah Ulang Tahun Jakarta di Pasar Seni Ancol

written by Admin June 23, 2018

Sebagai bentuk kepedulian yang tinggi terhadap perkembangan budaya lokal, khususnya budaya Betawi yang merupakan akar dari budaya khas masyarakat DKI Jakarta. Taman Impian Jaya Ancol pun menyelenggarakan sebuah sesi bincang-bincang membahas sejarah Jakarta dan Betawi yang bertajuk ‘Diskusi sejarah “Orang Betawi & HUT Jakarta” oleh JJ Rizal (Sejarawan) dan Sem Haesy (Budayawan) bertempat di Pasar Seni Ancol.

Pasar Seni Ancol memang mengangkat tema Kampoeng Betawi selama momen Libur Lebaran guna mendekatkan lagi masyarakat dengan berbagai informasi sejarah dan budaya Betawi yang mulai terlupakan di DKI Jakarta ini. Tentunya yang disasar tidak hanya wisatawan nusantara saja akan tetapi ada juga wisatawan mancanegara yang turut hadir dan menuntaskan rasa penasarannya terkait sejarah dan budaya Betawi ini.

Salah Satu Sudut di Wall of Frame Sejarah Jakarta di Psar Seni Ancol

Dalam diskusi menarik yang diselenggarakan, sejarawan JJ Rizal memaparkan bahwa sejarah penetapan tanggal hari ulang tahun Jakarta mengandung muatan politik di dalamnya. Menurutnya jika dilihat dari sejarahnya, penetapan tanggal 22 Juni sebagai HUT Jakarta merupakan sebuah keputusan politik saat Jakarta masih dipimpin oleh seorang Walikota bernama Sudiro pada tahun 1953.

“Jadi, sebagai pesanan politik maka di dalamnya itu orang yang ditugaskan itu juga melakukan tindakan politik, misalnya dalam artian dia memilih tahunnya,” kata Rizal seusai menjadi narasumber dalam diskusi Menguak Sejarah Hari Lahir Jakarta, Jumat (22/6), di Pasar Seni Ancol, Jakarta Utara.

Rizal menjelaskan, tahun 1527 dipilih menjadi hari lahir Jakarta lantaran tahun itu semangat nasionalisme yang kuat sedang terjadi. Masyarakat yang tinggal di wilayah Sunda Kelapa pada saat itu sedang dalam semangat antikolonialisme yang mencerminkan kekuatan pribumi Islam dari Demak dalam mengusir kekuatan Portugis di Sunda Kelapa.

Rizal menjelaskan, Sudiro menugaskan seorang cendekiawan Profesor Sukanto untuk mencari tanggal untuk HUT Jakarta. Saat proses penetapan tanggal, lanjut Rizal, Sukanto hanya menemukan tahunnya 1527 dan tahun itu mengutip disertasi tulisan cendekiawan lainnya Profesor Hussein Djayadiningrat. Singkat cerita, ketika Sukanto mengumumkan bahwa HUT Jakarta pada 22 Juni 1957, Hussein menolak dengan alasan yang tidak disebutkan oleh Rizal.

“Jadi berpolemik lah dua profesor itu. Semua adalah hasil dari interpretasi. Tapi yang jelas tanggal dan bulan sudah didapatkan dan yang menang adalah keputusan politik. Yang menang bukan Pak Hussein dan bukan Pak Sukanto, tapi Pak Sudiro, karena akhirnya Jakarta punya HUT,” papar Rizal dalam diskusinya.

Rizal menganggap, penetapan HUT Jakarta adalah sebuah keputusan politik dari Sudiro pada saat itu. Sehingga, menurut Rizal, perdebatan soal HUT Jakarta tidak memiliki dasar sejarah yang kuat. Rizal menganggap perdebatan soal HUT Jakarta tidak memiliki dasar sejarah yang kuat, sehingga HUT Jakarta menjadi sebuah keputusan politik.

“Tetapi sebenarnya perdebatan ini berdua perdebatan yang basis sejarahnya lemah atau lebih banyak story-nya daripada history-nya,” tegas Rizal.

“Tetapi sebagai keputusan politik ya sudah kita terima saja jadi kita enggak usah meributkan benar atau salahnya tapi kita hargai itu sebagai keputusan politik,” tambahnya lagi.

You may also like

Leave a Comment